Syarat Ketentuan Transaksi Badal Haji
Alasan memilih Badal Haji bersama kami
- Pasti di Kerjakan, Amanah setiap tahun sebagai penyelenggara badal haji.
- Mempunyai banyak petugas yang berada diMadinah Makkah sebegai Ustad pembimbing.
- Dikerjakan oleh ustad yang telah berhaji dan berpengalaman .
- Biaya yang di tawarkan terjangkau.
- Mendapat sertifikat Badal Haji.
Yang Boleh diBadal Haji kan
- Yang di Badalkan sudah meninggal Dunia.
- Yang di Badalkan sudah Tua Rentah, tidak memungkinkan utk melakukan perjalanan Haji.
- Yang di Badalkan meninggal dalam keadaan islam.
- Yang di Badalkan Meninggal dalam keadaan Waras (Bukan Gila).
Souvenir Badal Haji
- Sajadah
- Al-Quran
- Air zamzam
- Tas Souvenir cantik (Selama tersedia)
Pengertian Badal Haji
Jasa Badal Haji yaitu Melaksanakan Haji untuk orang lain. Dalam arti lain melaksanakan ibadah haji namun niat yang diucapakannya hanya membadalkan atau menggantikan seseorang yang tidak mampu melaksanakan ibadah haji karena sebab-sebab tertentu, seperti; meninggal dunia, lumpuh, sakit parah sehingga tidak bisa menjalankan ibadah haji dan seseorang yang sudah tua dan tidak memungkinkan untuk melaksanakan Haji.
Dasar Hukum dan Hadits Badal Haji
Berhaji dengan niat untuk orang lain ini didasarkan kepada beberapa hadits Rasulullah SAW, diantaranya hadits seorang wanita dari suku Khasy’am yang bertanya kepada beliau SAW tentang Ayahnya yang masih hidup namun sudah sangat sepuh dan tidak mampu berangkat haji :
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لا يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ
Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban dari Allah untuk berhajji bagi hamba-hambaNya datang saat bapakku sudah tua renta dan dia tidak akan kuat menempuh perjalanannya. Apakah aku boleh menghajjikan atas namanya?. Beliau menjawab: Boleh. Peristiwa ini terjadi ketika hajji wada’ (perpisahan). (HR. Bukhari)
Selain itu juga hadits lain yang senada, yang meriwayatkan tentang seorang wanita dari suku Juhainah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ibunya yang sewaktu masih hidup pernah bernadzar untuk berangkat haji namun belum kesampaian sudah wafat.
إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ وَلَمْ تَحُجّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنَ أَكُنْتِ قَاضِيْتُهُ؟ اقْضُوا اللهَ فاللهُ أَحَقُّ بِالوَفَاءِ
"Ibu saya pernah bernadzar untuk mengerjakan haji, namun belum sempat mengerjakannya beliau meninggal dunia. Apakah saya boleh mengerjakan haji untuk beliau?”. Rasulullah SAW menjawab,”Ya, kerjakan ibadah haji untuk beliau. Tidakkah kamu tahu bahwa bila ibumu punya hutang, bukankah kamu akan melunasinya?”.
Lunasilah hutang ibumu kepada Allah, karena hutang kepada Allah harus lebih diutamakan. (HR. Bukhari)
Catatan :
(Biaya sewaktu-waktu dapat berubah sesuai sitwasi dan kondiri)