Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah ruhani, tempat setiap hati diuji dan setiap jiwa diajak kembali mengenali dirinya. Di bulan yang mulia ini, Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:
“Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan iman dan penuh pengharapan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ramadan adalah momentum terbaik untuk muhasabah diri—menghitung kembali perjalanan hidup, menilai amal, dan memperbaiki niat.
1. Menghitung Amal, Bukan Hanya Hari
Sering kali kita menghitung sudah berapa hari berpuasa, tetapi jarang menghitung:
-
Sudahkah lisan ini terjaga?
-
Sudahkah hati ini bersih dari iri dan dengki?
-
Sudahkah shalat kita lebih khusyuk dari sebelumnya?
Puasa bukan hanya menahan makan, tetapi menahan amarah, menahan prasangka, dan menahan diri dari hal yang sia-sia. Jika Ramadan berlalu tanpa perubahan akhlak, mungkin yang berpuasa hanya jasad, bukan hati.
2. Menata Niat, Meluruskan Tujuan
Ramadan mengajarkan keikhlasan. Tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa kecuali Allah. Di sinilah latihan kejujuran itu dimulai.
Muhasabah mengajak kita bertanya:
-
Apakah ibadahku karena Allah atau karena penilaian manusia?
-
Apakah sedekahku benar-benar tulus?
-
Apakah tilawahku mendekatkanku pada Al-Qur’an atau sekadar menggugurkan target?
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini adalah panggilan untuk evaluasi diri setiap hari.
3. Mengingat Keterbatasan Umur
Kita tidak pernah tahu apakah Ramadan tahun ini adalah yang terakhir. Tahun lalu mungkin masih bersama orang-orang tercinta, kini sebagian telah tiada.
Ramadan mengingatkan bahwa hidup sangat singkat. Maka jangan tunda taubat. Jangan tunggu sempurna untuk berubah. Justru perubahan dimulai dari langkah kecil yang istiqamah.
4. Membersihkan Hati, Memperbaiki Hubungan
Muhasabah juga berarti memperbaiki hubungan:
-
Dengan Allah melalui taubat dan ibadah.
-
Dengan sesama melalui maaf dan silaturahmi.
Tidak ada Ramadan yang sempurna jika hati masih menyimpan dendam. Maafkan, meski sulit. Lepaskan, meski berat. Karena hati yang lapang lebih mudah menerima cahaya hidayah.
5. Menjadikan Ramadan Titik Balik
Ramadan seharusnya bukan rutinitas tahunan, tetapi titik balik kehidupan.
Tanyakan pada diri:
-
Setelah Ramadan, apakah aku akan tetap menjaga shalat tepat waktu?
-
Apakah Al-Qur’an tetap kubaca setiap hari?
-
Apakah sedekah tetap menjadi kebiasaan?
Keberhasilan Ramadan bukan diukur dari meriahnya buka puasa, tetapi dari perubahan diri setelahnya.
✨ Penutup: Saatnya Berdamai dengan Diri
Muhasabah bukan untuk menyalahkan diri tanpa harapan, tetapi untuk memperbaiki diri dengan penuh optimisme. Allah Maha Pengampun. Sebesar apa pun dosa kita, rahmat-Nya jauh lebih luas.
Semoga Ramadan ini:
-
Membersihkan hati kita,
-
Menguatkan iman kita,
-
Dan menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa.
Ya Allah, jangan Engkau jadikan Ramadan ini berlalu kecuali Engkau telah mengampuni dosa-dosa kami dan memperbaiki hati kami.
Aamiin. [Muslim Guree Hrun | 6 Ramadhan 2026]
